Sabtu, 06 Agustus 2011

Riwayat Singkat Ki Ngabei Ageng Soerodiwirdjo (Eyang Suro)

Ki Ngabei Ageng
Soerodiwirdjo nama kecilnya
adalah Muhamad Masdan,
yang lahir pada tahun 1876
di Surabaya putra sulung Ki
Ngabei Soeromihardjo
(mantri cacar di ngimbang
kab: jombang Ki ngabei
Soeromihardjo adalah
saudara sepupu RAA
Soeronegoro (bupati Kediri
pada saat itu). Ki Ageng
soerodiwirdjo mempunyai
garis keterunan batoro
katong di Ponorogo, beliau
kawin dengan ibu sarijati
umur 29 tahun di surabaya
dari perkawinan itu
dianugrahi 3 anak laki-2 dan
2 anak perempuan namun
semuanya meninggal dunia
sewaktu masih kecil.
Pada usia 14 tahun (th 1890)
beliau lulus SR sekarang SD
kemudian diambil putra oleh
pamanya (wedono di
wonokromo) dan tahun 1891
yaitu tepat berusia 15 tahun
ikut seorang kontrolir
belanda di pekerjakan
sebagai juru tulis tetapi
harus magang dahulu
(sekarang capeg). Pada usia
yang relatif masih muda Ki
Ageng Soerodiwirdjo mengaji
di pondok pesantren tibu
ireng jombang, dan disini lah
beliau belajar pencak silat
pada tahun 1892 pindah ke
bandung tepatnya di
parahyangan di daerah ini
beliau berksempatan
menambah kepandaian ilmu
pencak silat. Ki Ageng
Soerodiwirdjo adalah
seorang yang berbakat,
berkemauan keras dan dapat
berfikir cepat serta dapat
menghimpun bermacam-
macam gerak langkah
permainan. Pencak silat yang
di ikuti antar lain:
* Cimande
* Cikalong
* Cibaduyut
* Ciampea
* Sumedangan
Tahun 1893 beliau pindah ke
jakarta, di kota betawi ini
hanya satu tahun tetapi
dapat mempergunakan
waktunya untuk menambah
pengetahuan dalam belajar
pencak silat yaitu:
* Betawian
* Kwitangan
* Monyetan
* Toya
Pada tahun 1894 Ki Ageng
Soerodiwirdjo pindah ke
bengkulu karena pada saat
itu orang yang di ikutinya
(orang belanda) pindah
kesana.di bengkulu
permainanya sama dengan di
jawa barat, enam bulan
kemudian pindah ke padang.
Di kedua daerah ini Ki Ageng
Soerodiwirdjo juga
memperdalam dan
menambah pengetahuannya
tentang dunia pencak silat.
Permainan yang
diperolehnya antara lain :
minangkabau
* Permainan padang
Pariaman
* Permainan padang
Sidempoan
* Permainan padang Panjang
* Permainan padang Pesur /
padang baru
* Permainan padang sikante
* Permainan padang alai
* Permainan padang
partaikan
Permainan yang di dapat dari
bukit tinggi yakni :
* Permainan Orang lawah
* Permainan lintang
* Permainan solok
* Permainan singkarak
* Permainan sipei
* Permainan paya punggung
* Permainan katak gadang
* Permainan air bangis
* Permainan tariakan
Dari daerah tersebut salah
satu gurunya adalah Datuk
Rajo Batuah. Beliau
disamping mengajarkan ilmu
kerohanian. Dimana ilmu
kerohanian ini diberikan
kepada murid-murid beliau di
tingkat II.
Pada tahun 1898 beliau
melanjutkan perantuanya ke
banda aceh, di tempat ini Ki
Ageng Soerodiwirdjo
berguru kepada beberapa
guru pencak silat,
diantarnya :
* Tengku Achamd mulia
Ibrahim
* Gusti kenongo mangga
tengah
* Cik bedoyo
Dari sini diperoleh pelajaran
– pelajaran, yakni:
* Permainan aceh pantai
* Permainan kucingan
* Permainan bengai lancam
* Permainan simpangan
* Permainan turutung
Pada tahun 1902 Ki Ageng
Soerodiwirdjo kembali ke
Surabaya dan bekerja
sebagai anggota polisi
dengan pangkat mayor
polisi. Tahun 1903 di daerah
tambak Gringsing untuk
pertama kali Ki Ageng
Soerodiwirdjo mendirikan
perkumpulan mula-mula di
beri nama ‘SEDULUR
TUNGGAL KECER” dan
permainan pencak silatnya
bernama “ JOYO
GENDELO” .
Pada tahun 1917 nama
tersebut berubah, dan
berdirilah pencak silat
PERSAUDARAAN SETIA HATI,
(SH) yang berpusat di
madiun tujuan perkumpulan
tersebut diantaranya, agar
para anggota (warga) nya
mempunyai rasa
Persaudaraan dan
kepribadian Nasional yang
kuat karena pada saat itu
Indonesia sedang di jajah
oleh bangsa belanda. Ki
Ageng Soerodiwirdjo wafat
pada hari jum`at legi tanggal
10 nopember 1944 dan di
makamkan di makam
Winongo madiun dalam usia
enam puluh delapan tahun
(68).

Jumat, 05 Agustus 2011

PERSAUDARAAN SETIA HATI TERATE (PSHT) & MAKNA LAMBANG PSHT

Pencak Silat Persaudaraan
Setia Hati Terate
Jiwa patriotisme yang tinggi
ditunjukkan oleh Ki Hadjar
Hardjo Oetomo, salah
seorang Saudara Tertua Setia
Hati, dengan bantuan teman-
temannya dari Pilang Bango,
Madiun dengan berani
menghadang kereta api yang
lewat membawa tentara
Belanda atau mengangkut
perbekalan militer.
Penghadangan, pelemparan,
dan perusakkan yang terjadi
berulang-ulang sampai
akhirnya ia ditangkap PID
Belanda dan mendapat
hukuman kurungan di
penjara Cipinang dan
dipindahkan ke Padang,
Sumatera Barat. Setelah
dibebaskan, Ki Hadjar Hardjo
Oetomo yang telah
mendirikan Setia Hati Pencak
Sport Club yang kemudian
mengaktifkan kembali
perguruannya sampai
akhirnya berkembang
dengan nama Persaudaraan
Setia Hati Terate.
Persaudaraan Setia Hati
Terate dalam
perkembangannya
dibesarkan oleh RM Imam
Koesoepangat murid dari
Mohammad Irsyad kadhang
(saudara) Setia Hati Pencak
Sport Club (SH PSC) yang
merupakan murid dari Ki
Hadjar Hardjo Oetomo.
Sebelum menjadi kadhang SH
dan mendirikan SH PSC, Ki
Hadjar Hardjo Oetomo
magang sebagai guru di SD
Banteng Madiun. Tidak betah
menjadi guru, bekerja di
Leerling Reambate di SS
(PJKA) Bondowoso,
Panarukan dan Tapen. Tahun
1906 keluar dari PJKA dan
bekerja menjadi Mantri Pasar
Spoor Madiun di Mlilir dengan
jabatan terakhir sebagai
Ajudan Opsioner Pasar Mlilir,
Dolopo, Uberan dan Pagotan
(wilayah selatan Madiun).
Pada tahun 1916 bekerja di
pabrik gula Redjo Agung
Madiun. Tahun 1917 masuk
menjadi saudara SH dan
dikecer langsung oleh Ki
Ngabei Soerodiwirjo, pendiri
Persaudaran Setia Hati. Pada
tahun ini bekerja di stasiun
kereta api Madiun hingga
menjabat Hoof Komisaris.
Tahun 1922 bergabung
dengan Sarekat Islam dan
mendirikan Setia Hati Pencak
Sport Club di Desa
Pilangbango, Madiun, yang
kemudian berkembang
sampai ke daerah Nganjuk,
Kertosono, Jombang,
Ngantang, Lamongan, Solo,
dan Yogyakarta.
Tahun 1925, ditangkap oleh
Pemerintah Belanda dan
dipenjara di Cipinang,
kemudian dipindahkan ke
Padang, Sumatra Barat
selama 15 tahun. SH PSC
dibubarkan Belanda karena
terdapat nama pencak.
Setelah pulang dari masa
tahanan mengaktifkan
kembali SH PSC dan untuk
menyesuaikan keadaan, kata
pencak pada SH PSC menjadi
pemuda. Kata pemuda
semata-mata hanya untuk
mengelabui Belanda agar
tidak dibubarkan. Bertahan
sampai tahun 1942
bersamaan dengan
datangnya Jepang ke
Indonesia.
Tahun 1942, atas usul
saudara SH PSC Soeratno
Soerengpati tokoh
pergerakan Indonesia Muda,
nama SH Pemuda Sport Club
diubah menjadi Setia Hati
Terate. Pada waktu itu SH
Terate bersifat perguruan
tanpa organisasi.
Tahun 1948, atas prakarsa
Soetomo Mengkoedjojo,
Darsono,dan lain-lain
mengadakan konferensi di
rumah Ki Hadjar Hardjo
Oetomo di desa Pilangbango,
Madiun. Hasil konferensi
menetapkan Setia Hati
Terate yang dulunya bersifat
perguruan diubah menjadi
organisasi Persaudaraan
Setia Hati Terate dengan
diketuai oleh Oetomo
Mangkoewidjojo dengan
wakilnya Darsono. Kemudian
secara berturut-turut:
· Tahun 1950, Ketua Pusat
oleh Mohammad Irsyad.
· Tahun 1974, Ketua Pusat
oleh RM Imam Koesoepangat.
· Tahun 1977-1984, Ketua
Dewan Pusat oleh RM Imam
Koesoepangat dan Ketua
Umum Pusat oleh Badini.
· Tahun 1985, Ketua Dewan
Pusat oleh RM Imam
Koesoepangat dan Ketua
Umum Pusat oleh Tarmadji
Boedi Harsono.
· Tahun 1988, Ketua Dewan
Pusat RM Imam
Koesoepangat meninggal
dunia dan PSHT dipimpin oleh
Ketua Umum Tarmadji Boedi
Hardjono sampai sekarang.
Untuk menjadi saudara pada
Persaudaraan Setia Hati
Terate ini, sebelumnya
seseorang itu terlebih
dahulu harus mengikuti
pencak silat dasar yang
dimulai dari sabuk hitam,
merah muda, hijau dan putih
kecil. Pada tahap ini
seseorang tersebut disebut
sebagai siswa atau calon
saudara.
Selama dalam proses latihan
pencak silat, seorang
pelatih/warga (saudara SH)
juga memberikan pelajaran
dasar ke-SH-an secara umum
kepada para siswa.
Setelah menamatkan pencak
silat dasar tersebut,
seseorang yang dianggap
sebagai warga atau saudara
SH adalah apabila ia telah
melakukan pengesahan yang
dikecer oleh Dewan
Pengesahan. Dewan
pengesahan ini termasuk
saudara SH yang terbaik dari
yang terbaik yang dipilih
melalui musyawarah
saudara-saudara SH. Proses
kecer tersebut berlangsung
pada bulan Syura. Adapun
sarat yang harus disediakan
dalam pengeceran antara
lain: Ayam jago, mori, pisang,
sirih, dan lain sebagainya
sarat-sarat yang telah
ditentukan.
Dalam proses pengeceran ini,
kandidat diberi pengisian
dan gemblengan jasmani dan
rohani dan ilmu ke-SH-an
serta petuah-petuah,
petunjuk-petunjuk secara
mendalam dan luas. Saudara
SH yang baru disahkan
tersebut, dalam tingkatan
ilmu disebut sebagai saudara
tingkat I (erste trap). Pada
Persaudaraan Setia Hati
Terate juga dibagi dalam tiga
jenis tingkatan saudara yaitu
saudara SH Tingkat I (ester
trap), Tingkat II (twede
trap), tingkat III (derde
trap).
Pada Persaudaraan Setia Hati
Terate diajarkan 36 jurus
pencak silat yang merupakan
warisan dari Ki Ngabei
Soerodiwirjo di erste trap
serta pelajaran ilmu ke-SH-an
yang dapat diperoleh pada
tingkatan twede trap dan
derde trap. Jurus-jurus
tersebut merupakan ramuan
dari beberapa aliran pencak
silat yang berada di
nusantara, di antaranya dari
Jawa Barat, Betawi (Jakarta),
dan Minangkabau.
Khadang SH Terate tersebar
di seluruh wilayah Indonesia
dan di beberapa negara
seperti Belanda, Perancis,
Belgia, Jerman, Amerika
Serikat, Australia, Malaysia,
Singapura, Vietnam, Brunei
Darussalam. Secara
administratif mulai dirintis
pencatatan jumlah saudara
pada tahun 1986. Sehingga
jumlah saudara mulai tahun
1986 – 1999 sebanyak
108.267
Arti dan Makna Lambang
PSHT
1. Segi empat panjang
- Bermakna Perisai.
2. Dasar Hitam
- Bermakna kekal dan abadi.
3. Hati putih bertepi merah
- Bermakna cinta kasih ada
batasnya.
4. Merah melingkari hati
putih
- Bermakna berani
mengatakan yang ada dihati/
kata hati
5. Sinar
- Bermakna jalannya hukum
alam/hukum kelimpahan
6. Bunga Terate
- Bermakna kepribadian yang
luhur
7. Bunga terate mekar,
setengah mekar dan kuncup.
- Bermakna dalam
bersaudara tidak membeda-
bedakan latar belakang
8. Senjata silat
- Bermakna pencak silat
sebagai benteng
Persaudaraan.
9. Garis putih tegak lurus
ditengah-tengah merah
- Bermakna berani karena
benar, takut karena salah
10. Persaudaraan Setia Hati
Terate
- Bermakna mengutamakan
hubungan antar sesama
yang tumbuh dari hati yang
tulus, ikhlas, dan bersih.
- Apa yang dikatakan keluar
dari hati yang tulus.
- Kepribadian yang luhur.
11. Hati putih bertepi merah
terletak ditengah-tengah
lambang
- Bermakna netral

Kamis, 04 Agustus 2011

PERSAUDARAAN SETIA HATI TERATE

SEJARAH PSHT 
Sejarah Persaudaraan Setia HatiPada tahun 1903, bertempat di Kampung Tambak Gringsing, Surabaya, Ki Ngabeni Surodiwirjo membentuk persaudaraan yang anggota keluarganya disebut “Sedulur Tunggal Ketjer”, sedangkan permainan pencak silatnya disebut “Djojo Gendilo”
Tahun 1912, Ki Ngabeni Surodiwirjo berhenti bekerja karrena merasa kecewa disebabkan seringkali atasannya tidak menepati janji. Selain itu suasana mulai tidak menyenangkan karena pemeintah Hindia Belanda menaruh curiga; mengingat beliau pernah melempar seorang pelaut Belanda ke sungai dan beliau telah membentuk perkumpulan pencak silat sebagai alat pembela diri, ditambah pula beliau adalah seorang pemberani, Pemerintah Hindia Belanda mulai kwatir, beliau akan mampu membentuk kekuatan bangsa Indonesia dan menentang mereka. Setelah keluar dari pekerjaannya, beliau pergi ke Tegal.
Tahun 1914, Ki Ngabehi Surodiwirjo kembali ke Surabaya dan bekerja di Djawatan Kereta Api Kalimas, dan tahun 1915 pindah ke bengkel Kereta Api Madiun. Disini beliau mengaktifkan lagi Persaudaraan yang telah dibentuk di Surabaya, yaitu “Sedulur Tunggal Ketjer”, hanya pencak silatnya sekarang disebut “Djojo Gendilo Tjipto Muljo”. Sedangkan pada tahun 1917, nama – nama tersebut disesuaikan denngan keadaan zaman diganti menjadi nama “Perssaudaan Setia Hati”

Ki Hadjar Hardjo Oetomo
Salah satu murud Ki Ngabehi Surodiwirjo yang militan dan cukup tangguh, yaitu Ki Hadjar Hardjo Oetomo mempunyai pendapat perlunya suatu organisasi untuk mengatur dan menertibkan personil maupun materi pelajaran Setia Hati, untuk itu beliau meohon doa restu kepada Ki Ngabehi Surodiwirjo. Ki Ngabehi Surodiwirjo memberi doa restu atas maksud tersebut., karena menurut pendapat beliau hal – hal seperti itu adalah tugas dan kewajiban anak muridnya, sedangkan tugas beliau hanyalah “menurunkan ilmu SH”. Selain itu Ki Ngabehi Surodiwirjo berpesan kepada Ki Hadjar Hardjo Oetomo agar jangan memakai nama SH dahulu.
Setelah mendapat ijin dari Ki Ngabehi Surodiwirjo, Ki Hadjar Hardjo Oetomo pada tahun 1922 mengembangkan ilmu SH dengan nama Pencak Silat Club (P. S. C).
Karena Ki hadjar Hardjo Oetomo adalah orang SH, dan ilmu yang diajarkan adalah ilmu SH, maka lama – kelamaan beliau merasa kurang sreg mengembangkan ilmu SH dengan memakai nama lain, bukan nama SH. Kembali beliau menghadap Ki Ngabehi Surodiwirjo menyampaikan uneg – unegnya tersebut dan sekalian mohon untuk diperkenankan memakai nama SH dalam perguruannya. Oleh Ki Ngabehi Surodiwirjo maksud beliau direstui, dengan pesan jangan memakai nama SH saja, agar ada bedanya. Maka Pencak Silat Club oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo diganti dengan nama “SETIA HATI MUDA” (S. H. M).

Peranan Ki Hadjar Hardjo Oetomo Sebagai Perintis Kemerdekaan
Ki Hadjar Hardjo Oetomo mengembangkan ilmu SH di beberapa perguruan yang ada pada waktu antara lain perguruan Taman Siswo, Perguruan Boedi Oetomo dan lain – lain. Dalam mengajarkan ilmu SH beliau diantaranya adalah menamakan suatu sikap hidup, ialah “kita tidak mau menindas orang lain dan tidak mau ditindas oleh orang lain”. Walaupun pada waktu itu setiap mengadakan latihan tidak bisa berjalan lancar, karena apabila ada patroli Belanda lewat mereka segera bersembunyi; tetapi dengan dasar sikap hidup tersebut murid – murid beliau akhirnya menjadi pendekar – pendekar bangsa yang gagah berani dan menentang penjajah kolonialisme Belanda. Dibandingkan keadaan latihan masa lalu yang berbeda dengan keadaan latihan saat ini, seharusnya murid – murid SH lebih baik mutu dan segalanya dari pada murid – murid SH yang lalu. Melihat sepak terjang murid – murid Ki Hadjar Hardjo Oetomo yang dipandang cukup membahayakan, maka Belanda segera menangkap Ki Hadjar Hardjo Oetomo bersama beberapa orang muridnya, dan selanjutnya dibuang ke Digul. Pembuangan Ki Hadjar Hadjo Oetomo ke Digul berlangsung sampai dua kali, karena tidak jera – jeranya beliau mengobarkan semangat perlawanan menentang penjajah.
Selain membuang Ki Hadjar hardjo Oetomo ke Digul, Pemerintah Hindia Belanda yang terkenal dengan caranya yang licik telah berusaha memolitisir SH Muda dengan menjuluki SHM bukan SH Muda, melainkan SH Merah; Merah disini maksudnya adalah Komunis. Dengan demikian pemerintah Belanda berusaha menyudutkan SH dengan harapan SH ditakuti dan dibenci oleh masyarakat dan bangsa Indonesia. Menanggapi sikap penjajah Belanda yang memolitisir nama SH Muda dengan nama SH Merah, maka Ki Hadjar Hardjo Oetomo segera merubah nama SH Muda menjadi “Persaudaan Setia Hati Terate” hingga sampai sekarang ini.
Melihat jasa – jasa Ki Hadjar Hardjo Oetomo tersebut, maka pemerintah Indonesia mengakui beliau sebagai “Pahlawan Perintis Kemerdekaan” , dan memberikan uang pensiun setiap bulan sebesar Rp. 50.000,00 yang diterimakan kepada isteri beliau semasa masih hidup.
Setelah meninggal dunia, beliau dimakamkan di makam “Pilangbango”, yang terlatak di sebelah Timur Kotamadya Madiun, dari Terminal Madiun menuju ke arah Timur. Beliau mempunyai 2 (dua) orang putra, yaitu seorang putri yang diperisteri oleh bapak Gunawan, dan Seorang putra yang bernama bapak “Harsono” sekarang berkediaman di jalan Pemuda no. 17 Surabaya. Ibu Hardjo Oetomo meninggal pada bulan September 1986 di tempat kediamannya, di desa Pilangbango Madiun.
Rumah beliau, oleh Bapak Harsono dihibahkan kepada Persaudaraan Setia Hati Terate pada akhir tahun 1987 dengan harga Rp. 12,5 juta. Rencana Pengurus Pusat, bekas rumah kediaman pendiri Persaudaraan SH Terate tersebut akan dipugar menjadi “Museum SH Terate” agar generasi penerus bisa menyaksikan peninggalan pendahulu – pendahulu kita sejak berdiri sampai dengan perkembangannya saat ini.